Depan  •  Berita  •  KOMPETENSI TENAGA KERJA, Pengusaha Minta Kurikulum Pendidikan Diselaraskan

KOMPETENSI TENAGA KERJA, Pengusaha Minta Kurikulum Pendidikan Diselaraskan

Berita  |   |  30 May 2014   

JAKARTA—Kalangan pengusaha meminta kepada Kementerian Pendidikan untuk segera menyelaraskan kebutuhan kerja ke dalam kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri untuk mendongkrak peningkatan kompetensi lulusan.

Ketua Komite Tetap Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Pemberdayaan Tenaga Kerja Frans Go mengatakan etos, sikap, dan perilaku dalam dunia kerja perlu segera dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan.

Minimal untuk kurikulum sekolah menengah kejuruan yang diproyeksikan mencetak lulusan siap kerja. “Jadi begitu mereka lulus, sudah siap kerja. Pengusaha sebagai user, tidak perlu lagi mendidik etos, sikap, dan perilaku yang dibutuhkan untuk memasuki dunia kerja,” katanya, Minggu (4/5/2014).

Saat ini, pemerintah sama sekali belum menyiapkan lulusan yang siap kerja, terutama jika dilihat dari etos kerja lulusan. Saat menerima lulusan baru ke dunia kerja, mayoritas pengusaha harus memberikan waktu pelatihan lebih lama untuk mematangkan etos dan sikap kerja pekerja barunya.

Dengan mengintegrasikan komponen tersebut ke dalam kurikulum pendidikan, lulusan akan lebih kompeten terutama jika dilihat dari etos dan kesiapan menerima pekerjaan. “Hal itu akan berdampak pada produktivitas industri di Tanah Air. Dengan itu, kami yakin produktivitas industri segera membaik.”

Menanggapi desakan itu, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Pendidik Kementerian Pendidikan Santi Ambarukmi mengatakan pemerintah segera menyelaraskan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri.

“Namun dengan berlakunya kurikulum yang baru tersebut, tidak serta merta lulusan yang sesuai dengan keinginan dunia usaha akan didapat pada tahun ini. Implementasi kurikulum pendidikan yang selaras tersebut memerlukan wakt minimal 3 tahun,” katanya.

Tidak Nyambung Dengan Industri

Wakil Ketua Komite Tetap Penempatan Tenaga Kerja Kadin Iftida Yasar mengatakan kurikulum pendidikan di Indonesia harus segera dibenahi untuk memacu penyerapan lulusan.

“Saat ini, tenaga kerja banyak tidak terserap lantaran tidak match dengan kebutuhan industri,” katanya, Minggu (4/5/2014).

Saat ini kurikulum pendidikan sama sekali belum mengacu pada penyiapan tenaga kerja. “Banyak buruh mengenal etos dan disiplin kerja di lingkungan perusahaan. Padahal, etos dan disiplin kerja sudah harus ditanamkan sejak calon tenaga kerja masih mengenyam pendidikan di sekolah formal.”

Dulu saat investasi industri padat karya banyak masuk, tenaga kerja unskill banyak terserap karena dinilai masih match dengan kebutuhan industri. “Namun sekarang investasi industri yang banyak masuk justru padat modal. Maka dari itu, pemerintah perlu segera mengubah orientasi lulusan.” katanya.

Bisnis.com (4/5/2014)

 

Diskusi Kosong

Nama *

Email *

Website

Gunakan kode HTML blockquote, b, a, ul, ol, dan li jika ingin mempercantik komentar.