Depan  •  Berita  •  Pandanglah Buruh Sebagai Mitra

Pandanglah Buruh Sebagai Mitra

Berita  |   |  31 Oct 2013   

Jakarta, Setelah kenaikan harga BBM, para buruh menuntut kenaikan upah sebesar 50%. Tuntutan itu lansung ditolak oleh Sofyan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Kendati ia setuju dengan kenaikan sedikit di atas angka inflasi tahun depan yang 7,2%, Wanandi mengatakan, kenaikan upah minimum provinsi (UMP) tidak menjamin dapat meningkatkan produktivitas para pekerja (Kompas 24 Juni 2013).

Reaksi Wanandi tersebut mengingatkan kita kembali pada dua pertanyaan klasik yang sangat mendasar tentang penggajian buruh di Indonesia yaitu: pertama, berapa besar kenaikan gaji buruh yang pantas untuk menangulangi kenaikan biaya hidup dan inflasi sebagai dampak kenaikan harga BBM?

Kedua, siapakah yang harus mem perjuangkan kepentingan buruh untuk mencapai titik temu dengan kepentingan pengusaha?

Disain awal UMP tidaklah mengacu pada produktivitas buruh atau perkerja. UMP didasarkan pada kom ponen hidup layak (KHL). Ideal nya, pengusaha bersepakat dengan para pekerja dan dengan sukarela mengupahi pekerja di atas UMP yang ditetapkan pemerintah yang dalam hal ini diwakili oleh departemen tenaga kerja.

Apabila pengusaha tidak mampu membayar pekerjanya di atas atau sama dengan UMP maka pengusaha pemilik perusahaan tidak layak untuk melanjutkan usahanya. Karena logika bisnisnya, perusahaan yang tidak mampu membiayai kebutuhan fisik pekerjanya (UMP) berarti operasi usahanya tidak menguntungkan (profitable), sehingga cepat atau lambat pasti akan tutup
juga.

Di lain pihak apabila pekerja menuntut gaji yang jauh di atas UMP sehingga perusahaan tidak mampu lagi menciptakan laba, maka perusahaan akan membuat keputusan bisnis untuk menutup usahanya atau memindahkan lokasi usahanya ke tempat yang upah minimum nya lebih rendah.

Untuk perusahaan yang produknya berorientasi ekspor, apabila serikat pekerja di Indonesia bersikeras menuntut kenaikan upah 50%, maka secara ekonomis banyak perusahaan akan terpaksa memindahkan lokasi usahanya ke negara lain yang upah pekerjanya relative lebih rendah seperti China, India, atau Vietnam.

Pemindahan lokasi usaha ke luar negeri tentu saja akan secara khusus merugikan para pekerja di Indonesia karena mereka akan kehilangan pekerjaan dan secara umum akan merugikan perekonomian Indonesia.

Secara natural, naluri pengusaha adalah mencari untung sebanyak-banyaknya. Karenanya ongkos produk si ditekan agar harga jual ber saing, sementara itu produksi di maksimalkan untuk memperoleh keuntungan optimal.

NALURI KAPITALIS

Jadi naluri kapitalis pengusaha pada umumnya bukanlah pada ke sejahteraaan pekerja tetapi pada ke untungan perusahaannya. Adapun naluri sosialis pekerja adalah mendapatkan gaji sebesarbesarnya un tuk kesejahteraan keluarganya.

Dengan demikian ada dua naluri yang bertolak belakang, yaitu naluri kapitalis pengusaha yang ingin mencari untung sebesar-besarnya, dan naluri sosialis para buruh yang curiga terhadap niat pengusaha yang cenderung menguras tenaga pekerja tanpa mau membagi keuntungan untuk kesejahteraan pekerja.

Titik temu kedua naluri yang berbeda itu secara damai mungkin tercapai apabila ada komitmen pengusaha untuk membagi keuntungan kepada para pekerjanya. Pelajaran menarik dapat diamati pada manajemen sumber daya manusia perusahaan ritel terbesar di dunia yaitu Walmart.

Walmart adalah perusahaan ritel AS yang dimulai oleh Sam Walton di kota kecil negara bagian Arkansas, AS pada 1962. Walmart kemudian berkembang luar biasa pesat hingga pada awal 2013, jumlah pekerjanya tercatat lebih dari 2,2 juta , dan total penjualan lebih dari US$466 miliar per tahun dengan jumlah keuntungan 2012 mencapai US$28 miliar.

Sam Walton adalah orang yang sangat pragmatik dan terkenal dengan insting bisnisnya yang sangat efektif. Menurut Sam, “Jika Anda mengasuh pekerja Anda dengan baik, maka pekerja Anda akan mengasuh para langganan dengan baik, sehingga perusahaan dengan sendirinya akan
berkembang dan menguntungkan”.

Itu sebabnya Sam tidak memandang para pekerja di Walmart sebagai buruh, tetapi memandang mereka sebagai mitra (associates). Sebagai mitra, mereka mendapat bagian dari keuntungan perusahaan (profit sharing), dan para mitra dididik untuk berpikir seperti pengusaha.

Setiap mitra dapat melihat catatan jumlah penjualan dan data keuangan harian unitusahanya yang terpampang di dinding pengumuman. Dengan demikian mereka bisa mem proyeksikan bagian keuntungan yang akan diperoleh setiap mitra.

Para mitra juga dirangsang untuk memberikan ide-ide baru tentang bagaimana meningkatkan penjualan dan menekan biaya agar perusahaan menjadi lebih efisien dan memperoleh laba yang besar.  Laba yang besar toh pada akhirnya akan dinikmati para mitra juga.

Di samping itu setiap mitra tahu bahwa mereka mempunyai masa de pan karir di Walmart. Sejarah menunjukkan bahwa 75% promosi jabatan selalu diambil dari mitra yang ada (orang dalam).

Mitra dipromosikan tidak berdasarkan senioritas, tetapi berdasarkan prestasi yang ditunjukkan. Setiap mitra yang bekerja keras tahu bahwa mereka memiliki kesempatan untuk menjadi supervisor, manajer, dan seterusnnya.

Yang lebih unik lagi, bagian yang menangani urusan karyawan di Walmart tidak disebut Human Resources Division, tetapi disebut Divisi Mitra (People Division).

Mayoritas para mitra sangat puas dengan perlakuan perusahaan terhadap mereka, itulah sebabnya beberapa organisasi serikat pekerja di Amerika Serikat (AS) tidak berhasil membentuk serikat perkerja di dalam Walmart karena para mitra tidak melihat perlunya serikat pekerja dibentuk.
Namun demikian, berbeda dengan Walmart USA, Walmart di China memiliki serikat pekerja.

Di China, serikat pekerja adalah wajib bagi semua perusahaan besar. Namun model serikat pekerja di China berbeda dengan serikat pekerja di AS dan di Indonesia. Pemerintah dan organisasi serikat pekerja di China biasanya mendorong para pekerja untuk berpikir rasional dan selalu melihat kepentingan nasional sebagai hal yang mesti didahulukan demi kemajuan perekonomian China.

Jadi pemerintah dan serikat pekerja selalu bekerja sama untuk memperoleh kesepakatan dengan para pengusaha di China. Fokus pemerintah adalah menciptakan kondisi agar pengusaha senang dan rakyat Cina memiliki pekerjaan.

Belajar dari keberhasilan Wal mart, seyogianya pengusaha di Indonesia perlu menunjukkan niat baiknya untuk memperhatikan ke sejahteraan pekerja dengan bersikap transparan atas operasi usahanya dan mempertimbangkan profit sharing kepada pekerja sebagai mitra usaha.

Profit sharing dapat berbentuk uang tunai, bonus, atau pemberian saham (stock option). Dengan adanya profit sharing, isu-isu tentang besaran gaji yang pantas bagi pekerja sebagai mitra dengan sendirinya menjadi tidak relevan lagi.

Selanjutnya pemerintah dan serikat pekerja mungkin tidak akan perlu lagi adu kekuatan dengan pe ngusaha untuk penetapan gaji yang layak, sebab UMP hanya akan menjadi barometer (benchmark) peng gajian bagi karyawan yang baru masuk. Adapun kenaikan gaji pekerja yang sudah lama bekerja akan beriringan dengan efisiensi usaha dan tingkat keuntungan perusahaan.

Bisnis.com (16/7/2013)

Diskusi Kosong

Nama *

Email *

Website

Gunakan kode HTML blockquote, b, a, ul, ol, dan li jika ingin mempercantik komentar.