Depan  •  Berita  •  PHK Karyawan Bentoel Bakal Merembet ke Pabrik Rokok Lain di Malang

PHK Karyawan Bentoel Bakal Merembet ke Pabrik Rokok Lain di Malang

Berita  |   |  25 Sep 2014   

MALANG – Penawaran pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh PT Bentoel Internasional Investama Tbk Malang, Jawa Timur, kepada 1.000 orang karyawannya bakal merembet dan diikuti oleh pabrik rokok (PR) lainnya.

PT Bentoel mengaku akan melakukan pengurangan operasional pabrik dari 11 menjadi tiga pabrik, di mana pengumuman penawaran PHK tersebut dimulai sejak Senin (8/9/2014).

Koordinator PR Wagir Kabupaten Malang, S.A. Lutfi, mengatakan upaya efisiensi dengan melakukan pengurangan terhadap buruh PR juga bakal dilakukan oleh perusahaan lainnya tidak hanya Bentoel.

“PR yang berada di Wagir juga mulai memproyeksikan hal itu. Hal ini dilakukan sebagai langkah efisiensi menyusul tren penurunan industri rokok utamanya yang sigaret kretek tangan (SKT),” kata Lutfi, Senin (8/9/2014).

Selain faktor tren penjualan yang cenderung turun, faktor lainnya yang juga bakal menjadi ancaman serius bagi industri rokok adalah rencana kenaikan pita cukai pada 2015 mendatang.

Langkah efisiensi dengan mengurangi karyawan menjadi opsi PR guna menekan besarnya biaya operasional. Pengurangan tidak hanya dilakukan pada karyawan borongan saja, namun juga pada harian.

“Baru nantinya setelah tren penjualan mulai bangkit lagi PR akan melakukan perekrutan atau memanggil kembali. Industri rokok saat ini memang cukup berat,” jelas dia.

Berkaca dari situ, pihaknya menilai langkah yang diambil oleh PT Bentoel maupun PR Sampoerna yang lebih dulu melakukan PHK kepada karyawannya di Jember dan Banyuwangi adalah wajar.

Karena beban operasional yang ditanggung memang sedemikian tinggi. Pada 2015 mendatang, tidak hanya pita cukai yang naik, namun harga bahan bakar minyak (BBM) juga akan naik.

“Tidak hanya industri rokok, sektor lainnya juga bakal melakukan perampingan,” ujarnya.

Apalagi sebagian besar PR yang ada di Wagir termasuk jenis kecil dan menengah. Kalau pabrik sebesar Bentoel atau Sampoerna saja melakukan langkah efisiensi, maka PR lainnya juga bakal lebih rentan.

Menurutnya proyeksi pengurangan terhadap karyawan bakal dilakukan dikisaran 20%-23%. Jika langkah efisiensi tidak dilakukan, maka perusahaan rokok terancam gulung tikar.

“Tidak hanya terkait pengurangan karyawan, kami juga tengah menggodok tentang jam kerja. Langkah tersebut dilakukan agar perusahaan benar-benar efisien,” tambahnya.

Betoel Tawarkan Pensiun Dini

Bentoel Group menawarkan pemutusan hubungan kerja (PHK) atau pengunduran pekerja secara sukarela untuk efisiensi perusahaan.

Corporate Affairs Manager Bentoel Group Winny Soendaroe mengatakan pekerja yang ditawari pengunduran diri sukarela adalah pekerja di 11 pabrik perusahaan rokok tersebut yang terutama masa kerjanya 20 tahun ke atas. Total pekerjanya sebanyak 1.000 tenaga kerja.

“Tapi rasanya tidak semua mengajukan pengunduran diri. Angka pekerja yang mengajukan pengunduran baru ketahuan tiga hari lagi,” ujar Winny di Malang, Senin (8/9/2014).

Langkah tersebut diambil, kata dia, agar perusahaan bisa efiesien. Efisiensi dilakukan karena tantangan industri rokok sangat berat.

Regulasi-regulasi tersebut, seperti tarif cukai yang terus naik. Terlebih sejak 2014 diberlakukan  pajak rokok yang sebesar 10%.

“Bahan bakujuga  terus naik, terutama harga cengkeh,” ucapnya.

Di sisi lain, pangsa pasar rokok, terutama kretek, terus menurun. Bahkan dari hasil penelitian penurunannya bisa mencapai 30%.

Peraturan-peraturan tersebut, pada gilirannya harus tetap diikuti. Dampaknya, perusahaan masih rugi karena nilai investasi yang dikeluarkan perusahaan cukup besar.

Karena itulah, maka agar bisa bertahan maka jalan satu-satunya melakukan efisiensi dengan pengurangan pekerja.

Namun pengurangan tersebut tidak dipaksakan, melainkan diserahkan kepada keputusan pekerja sendiri.

Bagi pekerja yang bersedia mengundurkan diri secara sukarela, selain mendapatkan dana juga mendapatkan pelatihan pengelolaan uang dari perusahaan.

Dengan cara itu, maka diharapkan perusahaan tetap bisa sehat dan bisa bersaing dengan kompetitor.

“Paket kompensasi yang diutawarkan akan lebih dari apa yang telah menjadi ketentuan hukum UU No. 13 tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan,” ujar Jason Murphy, Presiden Bentoel Group dalam rilisnya.

Bentoel Group merupakan produsen rokok terbesar ke-4 di Indonesia dengan pangsa pasar sekitar 7%.

Bentoel Group memproduksi dan memasarkan beragam produk di segmen kretek buatan mesin, kretek buatan tangan, dan rokok putih. Portofolio perusahaan meliputi brand lokal sepertio Club Mild, Star Mild, UnO Mild, NeO Mild, Sejati, Tali Jagat Raya, Bintang Buana Raya, Tali Jagat Filter, Bintang Buana Filter dan Bentoel Biru.

Selain itu brand yang dijual secara global seperti Dunhill, Lucky Strike, dan Pall Mall.

Pada 2012, Bentoel Group menyajikan rokok kretek New Dunhill Fine Cut Mild yang merupakan rokok kretek peortama diproduksi anggota Brithis American Tobacco Group.

Bisnis.com (8/9/2014)

Diskusi Kosong

Nama *

Email *

Website

Gunakan kode HTML blockquote, b, a, ul, ol, dan li jika ingin mempercantik komentar.